Guru Pun Harus Belajar Dari Murid

Salah satu masalah yang dihadapi guru adalah perbedaan pendapat, baik antara sesama siswa maupun antara sang guru dengan muridnya. Tentu saja, perbedaan tersebut harus segera ditangani agar tidak mencetuskan konflik.

Tetapi, menangani perbedaan pendapat tidaklah mudah, termasuk di ruang kelas. Ada seni tersendiri agar guru tidak terjebak dalam otoritas tunggal tetapi juga tidak dianggap "lembek".

Menurut Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Wiendu Nuryanti dari berita yang dilansir dari okezone.com, evolusi pengetahuan dalam era informasi teknologi membuat guru bukan satu-satunya sumber ilmu. Murid kini bisa mendapatkan pengetahuan yang mereka butuhkan dari berbagai media, misalnya internet.

Wiendu mengimbuh, jika murid ternyata lebih banyak tahu tentang suatu hal dari gurunya atau guru tersebut belajar banyak dari muridnya, maka si guru tidak boleh malu mengekspresikan diri bahwa dia banyak belajar dari murid.

Cara itu, kata Wiendu, akan menempatkan siswa pada posisi yang dihargai pendapatnya. Dengan begitu siswa lebih mudah menerima ilmu baru.

"Guru yang berada di depan kelas dan sok tahu, akan menjengkelkan bagi murid. Karena guru bukan satu-satunya sumber pengetahuan," kata Wiendu, ketika membuka Pelatihan Nasional Metode Pendidikan HAM bagi Guru ASPnet, di Hotel Lorin, Sentul, Bogor, Jumat (20/9/2013).

Kreativitas dalam mengajar, kata Wiendu, adalah hal mutlak yang harus dimiliki guru. Misalnya, guru bisa membawa murid belajar di luar kelas. Ice breaker seperti ini dapat mengeluarkan murid dari kekakuan ruang kelas.

Dampaknya luar biasa sekali dalam kegiatan belajar mengajar. Termasuk juga pada upaya guru belajar menghormati hak asasi manusia (HAM) yang melekat pada murid-muridnya.

"Bentuk menghormati HAM ini bisa dengan mendengarkan pendapat berbeda, menyejajarkan diri dengan siswa dan tidak memandang siswa lebih bodoh," tuturnya. (ade)
No comments

Note: Only a member of this blog may post a comment.